Tuesday 5 July 2011

Oleh: Wahyudi MY

asap-asap rancu menyelinap di antara selirat bunyi-bunyian. membentur pada deretan etalase yang memantulkan orok jingga di ufuk timur. daun-daun kering berhamburan di emperan. Sepanjang mozek-mozek kusam yang terpajang. Sepanjang debu-debu yang mencumbu di alis pintu.

Ada origami swan tergantung di balkoni, kaktus kecil di jendela, sebuah bar reggae dengan kerjap neon-neon merah, hijau, biru, jingga, jingga, jingga, ................. sephia?

Seorang biduan melagukan puisi, puisi yang sedih. Menanti malam tiba, botol-botol bir, wiski, vodka, dan entah apa lagi, meraikannya.

di luar, di remang lampion, di perempatan yang pucat, di mana kunang-kunang bersenggama; malam adalah hitam. malam adalah kutukan sang bulan kepada para kekasih.meski masih terdengar , sayup-sayup dalam gema kota, lelaki tua itu meniupkan harmonikanya. dalam pesona blues yang memikat. seperti irama waktu. 

seperti jarum jam yang merangkak perlahan. bising. tapi kita seperti tak mendengar apa-apa.

Bulan semi. di antara reruntuhan angin selatan, gonggong anjing samar-samar bersahutan. melepasi bilah-bilah pijar kalimantang yang merobek sisi gelap rumah-rumah sederhana (yang seakan menyimpan rahsia). 

kota adalah nyali para masokis yang dijerut oleh hitam tar yang memadat. menguap sesak bersama aroma alkohol yang merembes di tingkap. menjelma embun.
menjelma embun agar malam tetap dingin.

Ketika cahaya hampir absen, biarkan para pengamen yang berkeliaran mendendangkan tembangnya yang penghabisan. 

kepada bulan. kepada bintang. kepada nyamuk-nyamuk yang berpesta pora di cakrawala.
kepada pengap knalpot yang meremang di udara. kepada anjing-anjing malam yang insomnia. 
kepada pajangan mural-mural di konkrit- semen bangunan.
kepada saké hangat yang mengalir sepi di tenggorokan. 
kepada hidup. 
kepada mati. 
kepada puisi... 
kepada Januari yang berahi...         -dipetik dari zine distorsi

No comments:

Post a Comment